Rabu, 05 Juni 2013

Teknik Pemijahan Ikan Nila


CARA PEMIJAHAN IKAN NILA
I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Nila GIFT (Genetic Improvement of Farmed Tilapia) merupakan salah satu jenis komoditas ikan air tawar yang cukup potensial untuk dikembangkan karena pertumbuhannya cepat, relatif lebih tahan penyakit dan toleran terhadap kualitas air kurang baik. Salah satu masalah yang dihadapi pembudidaya ikan dalam pengembangan ikan nila gift (Oreochromis niloticus bleeker) adalah terbatasnya stok benih ikan. Secara genetik ikan nila gift (Oreochromis niloticus bleeker) telah terbukti memiliki keunggulan pertumbuhan dan produktivitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan jenis ikan nila lain. Selain itu, ikan nila gift sama seperti ikan nila lainnya mempunyai sifat omnivora, sehingga dalam kegiatan usaha budidaya akan sangat efisien, dalam hal ini dapat menurunkan biaya pakan.
Peningkatkan produksi ikan nila gift (Oreochromis niloticus bleeker) yang masuk ke Indonesia pada tahun 1984 dan 1996 dari ICLARAM Philipina melalui Balai Penelitian Perikanan Air Tawar (Balitkanwar).. Ikan nila gift adalah ikan hasil seleksi dan persilangan dari 8 strain ikan nila yang dikumpulkan dari 8 negara di dunia yaitu Mesir, Ghana, Senegal, Kenya, Israel, Singapura, Thailand, dan Taiwan (Velasco et al., 1996).
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Biologi Ikan Nila GIFT
2.1.1. Klasifikasi Ikan Nila GIFT
Sistematika ikan nila gift tidak jauh berbeda dalam pengelompokan sistematika dengan jenis ikan lainnya. Menurut Siregar (2003), klasifikasi ikan nila gift adalah sebagai berikut :
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Subfilum : Vertebrata
Kelas : Pisces
Sub kelas : Acanthoptherigii
Ordo : Percomorphi
Sub ordo : Percoidae
Famili : Cichlidae
Genus : Oreochromis
Species : Oreochromis niloticus
Gambar 1. Ikan Nila GIFT (Oreochromis niloticus)
2.1.2. Morfologi Ikan Nila GIFT
Ikan nila gift mempunyai bentuk tubuh yang agak memanjang dan pipih ke samping, mempunyai warna hitam agak keputihan, sisiknya besar dan kasar serta tersusun rapi. Ikan nila gift termasuk golongan omnivora yaitu pemakan segala jenis makanan. Mata ikan menonjol agak besar dengan bagian tepi berwarna hijau kebiruan. pH air untuk nila gift berkisar antara 6 – 8,5, namun pertumbuhan optimalnya terjadi pada pH 7 – 8. (Siregar, 2003).

2.2. Teknik Pembenihan Ikan Nila Gift

2.2.1. Persiapan Kolam
Dua minggu sebelum dipergunakan kolam harus dipersiapkan. Dasar kolam dikeringkan, dijemur beberapa hari, dibersihkan dari rumput-rumputan dan dicangkul sambil diratakan. Tanggul dan pintu air diperbaiki jangan sampai terjadi kebocoran. Dipasang saringan pada pintu pemasukan maupun pengeluaran air. Tanah dasar dikapur untuk menstabilkan pH tanah dan memberantas hama dan penyakit dengan menggunakan kapur tohor sebanyak (100-300) kg/ha. Pemupukan dengan pupuk kandang dengan dosis (1-2) ton/ha. Setelah semuanya siap, kolam diairi mula-mula sedalam (5-10) cm dan dibiarkan (2-3) hari agar terjadi mineralisasi tanah dasar kolam, lalu tambahkan air lagi sampai kedalaman (80-100) cm, kemudian kolam siap ditebari induk ikan. (Suyanto, 1993).
2.2.1. Pemilihan dan Penyimpanan Induk
Untuk memilih induk yang baik diperlukan pengalaman. Namun demikian sebagai pedoman praktis, ciri-ciri induk ikan nila yang baik adalah sebagai berikut (Anonimus, 2009) :
a. Umur antara (4-5) bulan dan bobot (100-150) gram. Induk yang paling produktif bobotnya antara (500-600) gram.
b. Tanda nila jantan, warna badannya lebih gelap dari betina. Sifatnya galak terutama terhadap jantan lainnya. Alat kelamin berupa tonjolan (papila) di belakang lubang anus. Pada tonjolan itu terdapat satu lubang untuk mengeluarkan sperma. Bila waktu memijah tiba, sperma yang berwarna putih keluar dengan pengurutan perut ikan ke arah belakang.
c. Tanda nila betina, warna tubuh lebih cerah dibandingkan dengan jantan dan gerakannya lamban. Bila telah mengandung telur yang matang (saat hampir mijah), perutnya tampak membesar. Namun bila perutnya diurut, tidak ada cairan atau telur yang keluar.
Induk jantan dan betina disimpan secara terpisah. Selama peyimpanan, induk ikan juga masih perlu pakan tambahan berupa pelet. Banyak pakan yang diberikan 3% x bobot total induk sebanyak 3 kali sehari. (Anonimus, 2009).

2.2.2. Pematangan Gonad
Pematangan gonad merupakan tahap pertama dalam pemijahan benih. Induk diberi pakan (pelet), 3% x bobot total induk dan diberikan sebanyak 3 kali sehari yang mengandung protein sebanyak (30-40)% dengan kandungan lemak tidak lebih 3%. Perlu pula ditambahkan vitamin E, dan C yang berasal dari taoge dan daun-daunan/sayuran yang diiris. Kurang lebih 2 minggu kemudian, induk sudah mengalami matang gonad dan telur. Pada saat itu induk sudah dapat dipijahkan. Bobot induk antara 500-600 gram/ekor. (Anonimus, 2009).

2.2.3. Pemijahan dan Penetasan Telur
Pemijahan terjadi setelah hari ketujuh sejak penebaran induk. Pemijahan terjadi di lubang-lubang (lekukan berbentuk bulat) berdiameter (30-35) cm diatas kolam yang merupakan sarang pemijahan. Ketika pemijahan berlangsung, telur yang dikeluarkan induk betina dibuahi sperma induk jantan. Selanjutnya, telur yang sudah dibuahi tersebut dierami induk betina di dalam mulutnya. Induk betina yang sedang mengerami telurnya biasanya tidak makan alias puasa.(Khairuman dkk, 2003).
Telur menetas setelah 2 hari. Anak nila (burayak) yang baru menetas masih mengandung kantong kuning telur. Ukuran burayak yang baru menetas antara (0,9-1) mm. Burayak ini masih terus tinggal di dalam mulut induk sampai (5-7) hari sampai kuning telurnya diserap habis. Setelah itu barulah keluar dari mulut induknya dan mencari makan sendiri. (Anonimus, 2009).
2.2.4. Pemanenan Larva
Larva bisa segera dipanen setelah induk melepaskan benih dari dalam mulutnya. Pemanenan ini harus dilakukan pada saat yang tepat (paling lambat dua hari setelah dikeluarkan dari mulut induk). Waktu panen yang ideal dilakukan pada pagi hari ketika kondisi oksigen (O2) dalam jumlah banyak, hal ini ditandai dengan banyaknya larva yang muncul ke permukaan air kolam, terutama di bagian pinggir kolam. Jika pemanenan terlambat dilakukan, larva sudah berpindah ke arah tengah kolam sehingga sulit untuk ditangkap. (Khairuman dkk, 2003).
2.3. Pemeliharaan Larva
2.3.1. Persiapan Wadah
Pemeliharaan dapat dilakukan di dalam kolam atau bak khusus. Ukuran kolam sebaiknya tidak terlalu luas agar mudah dilakukan pengawasan. Bila menggunakan kolam tanah, luasnya tidak lebih dari 500 m2. Luas kolam yang ideal adalah 100 m2. Kolam tanah dipupuk terlebih dahulu sebelum ditebari burayak agar pakan alami dapat tumbuh. Jika menggunakan bak semen maka pakan alaminya harus dikultur di bak sendiri. Setelah dikultur pakan tersebut diberikan pada burayak sedikit demi sedikit. (Suyanto, 1993).
2.3.2. Pemberian Pakan
Selama pemeliharaan (3-4) minggu angka mortalitas burayak dapat mencapai (30-50) %. Namun, angka tersebut masih dianggap normal. Burayak yang telah berumur 1 minggu sudah dapat memakan kutu air (Moina, Diaphanosoma) yang berukuran (0,2-0,5) mm. Satu minggu berikutnya, burayak sudah dapat memakan makanan yang lebih besar ukurannya, seperti zooplankton bangsa cladocera dan copepoda yang berukuran (1-5) mm. Pakan tambahan yang dapat diberikan berupa butir-butir pakan yang disebut crumble (remah). Setelah pemeliharaan selama (3-4) minggu, panjang badan burayak (2-3) cm. Pada ukuran tersebut burayak sudah dapat dijual. (Suyanto, 1993).
2.3.3. Pengontrolan Air
Penggantian air harus sering dilakukan agar airnya selalu segar dan cukup oksigen. Pemasukan air baru sebaiknya dilakukan pagi dan sore/malam hari selama (1-2) jam. Pemasukan ini diiringi dengan pembuangan air yang seimbang. Air yang masuk harus jernih agar burayak tidak terganggu oleh endapan lumpur. Bila kekurangan oksigen, burayak akan timbul di permukaan air dan tampak terengah-engah. Ini dapat diatasi dengan pemberian aerator pada kolam terutama di waktu malam. (Suyanto, 1993).
2.4. Panen Benih
Pemanenan dan penangan benih memerlukan kecermatan, khususnya pada benih yang masih kecil. Pemanenan sebaiknya dilakukan pada waktu pagi saat kondisi oksigen dalam jumlah banyak. Di Indonesia terdapat dua cara panen yaitu panen sebagian dan panen total. Adapun caranya dapat dilihat sebagai berikut (Suyanto, 1993) :
a. Panen Sebagian
Panen sebagian biasanya menggunakan anco. Anco dipasang di dalam kolam. Di dalam anco ditaburkan sedikit pakan agar benih ikan berkumpul di atas anco tersebut. Setelah benih berkumpul, anco di angkat, kemudian benih diambil. Anco digunakan bila ingin menangkap benih dalam jumlah sedikit.
b. Panen Total
Alat-alat yang diperlukan untuk panen total adalah beberapa buah baskom, beberapa buah ember, anco, dan seser. Sebelum panen dimulai air kolam dikeluarkan secara perlahan hingga tersisa 10 cm. Pada saat itu, pemanen turun ke dalam kolam untuk megatur sisa air agar mengalir ke arah pintu pembuangan melalui parit (kemalir) yang terdapat di tengah dasar kolam. Pemanen harus menyibak-nyibakkan lumpur yang di dalam kemalir agar aliran air lancar. Kemudian benih ikan digiring perlahan-lahan ke arah kemalir. Sementara itu, di ujung kemalir (di dekat pintu pembuangan) dibuat kobakan/cekungan seluas 1 x 2 m. Benih ikan yang terkumpul dalam kobakan, lalu ditangkap dengen seser. Hasil tangkapan dikumpulkan di dalam baskom yang berisi air setengahnya. Kemudian baskom yang sudah berisi benih ikan dibawa ke tempat penampungan sementara. Namun, sebelumnya tempat penampungan tersebut diisi air dan dipasang hapa.
2.5. Hama Dan Penyakit
2.5.1. Hama
Umumnya, hama dikenal juga sebagai predator atau pemangsa. Hama berupa hewan baik yang hidup di dalam air maupun yang hidup di darat. Hama yang umum menyerang ikan nila, antara lain ular, lingsang, kodok dan burung. Hama dapat ditanggulangi dengan membasmi hama tersebut ataupun dengan cara memasang perangkap. Kegiatan yang paling efektif adalah melokalisir seluruh areal perkolaman dengan pagar tembok sehingga hama tidak bisa dengan mudah masuk ke areal perkolaman. (Khairuman dkk, 2003).
2.5.2. Penyakit
Penyakit pada ikan nila gift sama dengan penyakit ikan nila pada umumnya, antara lain( Anonimus, 2009) :
a. Penyakit pada kulit
Gejala yang terlihat yaitu pada bagian tertentu berwarna merah, berubah warna dan tubuh berlendir. Pengendaliannya dapat dilakukan dengan cara :
Direndam dalam larutan PK (kalium permanganat) selama (30-60) menit dengan dosis 2 gram/10 liter air. Pengobatan dilakukan berulang 3 hari kemudian.
b. Penyakit pada insang
Gejala yang terlihat yaitu pada bagian tutup insang terjadi pembengkakkan, lembar insang pucat/keputihan. Pengendalian penyakit ini sama dengan pengendalian pada kulit.
c. Penyakit pada organ dalam
Gejala yang terlihat yaitu perut ikan membengkak, sisik berdiri, dan ikan tidak gesit. Pengendalian penyakit ini sama dengan pengendalian pada kulit dan insang.
Secara umum, hal-hal yang dilakukan untuk mencegah timbulnya hama dan penyakit adalah sebagai berikut (Anonimus, 2009) :
1. Pengeringan dasar kolam secara teratur setiap selesai panen.
2. Hindari penebaran ikan secara berlebihan melebihi kapasitas.
3. Sistem pemasukan air yang ideal adalah paralel, tiap kolam diberi satu pintu pemasukan air.
4. Pemberian pakan cukup, baik kualitas maupun kuantitas.
5. Binatang seperti burung, siput sebagai pembawa penyakit jangan dibiarkan masuk ke areal perkolaman.
2.6. Kualitas Air
Pengelolaan kualitas air adalah cara pengendalian kondisi air di dalam kolam budidaya sedemikian rupa sehingga memenuhi persyaratan hidup bagi ikan yang akan dipelihara. Dalam budidaya ikan nila di kolam agar ikan dapat tumbuh dan berkembang, kondisi air kolam budidaya harus sesuai dengan kebutuhan ikan nila. Adapun variabel kualitas air yang sangat berpengaruh terhadap ikan nila adalah sebagai berikut (Anonimus, 2009):
a. Suhu Air
Suhu air merupakan faktor penting yang harus diperhatikan karena mempengaruhi laju metabolisme dalam tubuh ikan. Pada suhu air yang tinggi maka laju metabolisme akan meningkat, sedangkan pada suhu yang rendah, maka laju metabolisme akan menurun. Dengan suhu yang optimal, laju metabolisme akan optimal. Pertumbuhan ikan nila sangat dipengaruhi oleh suhu air dalam usaha pembenihan. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, suhu optimum untuk pertumbuhan ikan nila adalah (25-30)oC.
b. Volume Air
Pertumbuhan ikan nila yang dipelihara dalam air mengalir lebih cepat daripada yang dipelihara dalam air tergenang. Selain itu, volume air sangat menentukan padat penebaran ikan nila yang optimal.
c. Kadar Oksigen Terlarut
Ikan nila merupakan ikan yang tahan terhadap kekurangan oksigen terlarut dalam air, namun pertumbuhan ikan ini akan optimal jika kandungan oksigen terlarut lebih dari 3 ppm. Kandungan oksigen terlarut kurang dari 3 ppm dapat menyebabkan ikan tidak dapat tumbuh dan akhirnya mati.
d. Kadar Garam (salinitas)
Ikan nila mempunyai toleransi salinitas yang cukup luas, tetapi ertumbuhan ikan nila pada kadar garam lebih dari 30% akan terhambat. Pada kadar garam yang tinggi ikan membutuhkan energi yang minim untuk osmoregulasi sehingga energi yang digunakan untuk pertumbuhan berkurang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar